Sabtu, 23 November 2013

dunia psikologi


 psilologi biologis

 

1. Pengertian psikologi dan biologi
Psikologi secara umum dapat di definisikan sebagai disiplin ilmu yang berfokus pada perilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana perilaku dan berbagai proses mental ini di pengaruhi oleh kondisi mental organisme, dan lingkungan eksternal.
Sedangkan biologi di definisikan sebagai ilmu alam yang mempelajari kehidupan dan organisme hidup, termasuk struktur, fungsi, pertumbuhan, evolusi, persebaran, dan taksonominya. Ada juga yang mengatakan ilmu pengetahuan alam yang mempelajari tetang kehidupan di dunia dari segala aspek, baik itu tentang makhluk hidup, lingkungan, maupun interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
       Sehingga dapat di simpulkan bahwa psikologi biologis atau biopsilogi adalah adalah ilmu yang mempelajari mekanisme prilaku dan pengalaman dari sisi fisiologi, evolusi, serta perkembangan. Istilah biopsikologi memberi tekanan bahwa tujuan akhirnya adalah mengaitkan antara topik-topik biologi dengan psikologi.
2. Otak sumber pikiran dan kepribadian
A.Sistem saraf
  Dilihat dari cara kerja dan fungsinya, saraf bagaikan sebuah jaringan komunikasi. Sistem saraf berfungsi untuk menerima pesan dan menanggapi pesan tersebut. Dalam hal ini, pesan disebut rangsang. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa saraf merupakan bagian dari tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang dan kemudian menanggapi rangsang tersebut.
Seperti halnya dua orang yang berbincang-bincang melalui telepon. Seseorang di suatu tempat menyampaikan suatu pesan dan ditanggapi oleh orang di tempat lain. Melalui komunikasi tersebut akhirnya pesan yang disampaikan seseorang dapat ditanggapi oleh orang lain. Ilustrasi tersebut ternyata dapat menjelaskan tentang sistem saraf.
Para ilmuan membagi jaringan kerja yang rumit ini ke dalam dua bagian utama, yakni sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer.


a.Sistem saraf pusat
Berfungsi untuk menerima, memproses, menginterpretasikan, dan menyimpan informasi sensoris yang datang seperti informasi mengenai rasa, suara, bau, warna, tekanan pada kulit, kondisi organ internal, dan lain-lain. Sistem saraf ini juga mengirimkan pesan untuk otot, kelenjar, dan organ internal.
Dalam sistem saraf pusat terdapat saraf tulang belakang yang dapat menghasilkan beberapa perilaku, tanpa bantuan apapun dari otak. sebagai contoh, seandainya anda tiba-tiba menyentuh setrika panas, dengan segera anda akan menarik tangan dari setrika tersebut, bahkan sebelum otak anda memproses peristiwa yang telah terjadi.
b.Sistem saraf perifer
Berfungsi menangani pesan informasi yang masuk dan keluar dari sistem saraf pusat. Sistem saraf perifer terdiri dari 43 pasang saraf yang menghubungkan informasi dari dan ke sistem saraf pusat, 2 pasang saraf kranial di dalam kepala memasuki otak secara langsung, 3 pasang saraf tulang belakang masuk ke dalam tulang belakang melalui celah antara tulang belakang tersebut.
          Seandainya otak anda tidak mengumpulkan informasi dari dunia sekitar dengan menggunakan sistem saraf perifer, situasi itu dapat di ibaratkan sebuah radio tanpa alat penerima. Para ilmuan membagi sistem saraf perifer ke dalam dua bagian, yakni :
a)      Sistem saraf somatis atau sistem saraf skeletal
Sistem saraf sadar yang berperan dalam mengendalikan aktivits tubuh yang dilakukan secara sadar.Terdiri dari saraf-saraf yang berhubungan dengan reseptor sensorik yaitu sel yang dapat merasakan dunia. Ketika anda merasakan seekor serangga berjalan di lengan anda atau ketika mematikan lampu bahkan menulis nama, sistem somatis dalam kondisi aktif.
b)      Sistem saraf otonomik
Berfungsi untuk mengatur fungsi pembuluh darah, kelenjar, dan organ internal, seperti kandung kemih, perut, dan jantung. Sebagai contoh, ketika anda sedang melihat seseorang yang anda sukai, sehigga mengakibatkan jantung anda berdebar kencang, tangan anda dingin, dan pipi anda merah, dan inilah sistem saraf otonomik. Sistem saraf ini terbagi menjai dua bagian yaitu sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Kedua bagian ini saling bekerja sama secara berlawanan, untuk membuat tubuh mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.

B.Pesan kimiawi di dalam sistem saraf

Terdapat banyak senyawa kimia yang di manfaatkan sebagai neurotransmiter. Neurotransmiter yaitu bahan kimia endogen yang mengirimkan sinyal dari neuron ke sel target di sinaps. Zat ini mempengaruhi ssuasana hati, ingatan, dan kesejahteraan.
Seluruh aktivitas kehidupan manusia yang berkenaan dengan otak di atur melalui tiga cara, yaitu sinyal listrik pada neuron, zat kimiawi yang di sebut neurotransmitter dan hormon yang dilepaskan ke dalam darah. Hampir seluruh aktivitas di otak memanfaatkan neurotransmitter.
            Beberapa neurotransmiter utama, antara lain:
Ø    Asam amino: asam glutamat, asam aspartat, serina, GABA, glisina.
Ø    Monoamina: dopamin ( berkaitan dengan gerakan yang di sengaja,belajar, ikatan, emosi, kenikmatan, dan respon terhadap hal-hal yang baru), serotonin( mempengaruhi neuron yang berkaitan dengan tidur,nafsu makan, pengaturan suhu, penahanan rasa sakit, dan suasana hati), adrenalin, noradrenalin, histamin, dan melatonin.
Ø    Bentuk lain: asetilkolina( berkaitan dengan aksi otot, fungsi kognitif, ingatan, dan emosi), adenosina, anandamida, dll.
C.Hormon
Hormon yaitu zat kimiawi yang di keluarkan oleh organ-organ yang di sebut kelenjar, dan bekerja mempengaruhi fungsi organ-organ lainnya.diantaranya  di hasilkan oleh kelenjar endokrin ( endocrine glands), hormon di lepaskan secara langsung ke dalam aliran darah, kemudian di bawa ke berbagai organ dan sel yang mungkin letaknya jauh dari asal tempat hormon.
Beberapa hormon yang menarik perhatian beberapa psikolog yaitu :
Ø  Melatoni , yaitu hormon yang di keluarkan oleh kelenjar pineal, dan terlibat dalam pengaturan ritme biologis harian seperti meningkatkan tidur.
Ø  Oksitosin ,yaitu hormon yang di keluarkan oleh kelenjar hipofisis, meningkatkan kotraksi rahim ketika melahirkan dan memancing pengeluaran air susu ketika menyusui, dan hormon ini ikut berkontribusi pada hubungan antar manusia, baik wanita maupun pria, dengan memancing kedekatan dan kepercayaan.
Ø  Hormon adrenal, yaitu hormon yang di hasilkan oleh kelenjar adrenal dan terlibat dalam kondisi emosi serta stres.
Ø  Hormon seks, yaitu hormon yang mengatur perkembangan dan fungsi organ-organ refroduktif serta merangsang perkembangan karakteristik seksual pada pria dan wanita. Hormon seks terdiri dari androgen, estrogen, dan progesteron.
D.Otak
Otak merupakan pusat dari keseluruhan tubuh. Jika otak sehat, maka akan mendorong kesehatan tubuh serta menunjang kesehatan mental. Sebaliknya, apabila otak terganggu, maka kesehatan tubuh dan mental bisa ikut terganggu.
William shakespeare menyebut otak sebagai “kediaman yang rapuh bagi jiwa”. Pada kenyataannya, organ yang ajaib ini lebih menyerupai ruang utama dari sebuah rumah yang di penuhi oleh kamar-kamar dan gang-gang kecil, sementara “rumah” itu sendiri adalah sistem saraf secara keseluruhan. Sebelum dapat memahami jendela, tembok, dan mebel dari rumah tadi, kita perlu memahami rancangan menyeluruh dari rumah tadi.
Seandainya jantung atau paru-paru Anda berhenti bekerja selama beberapa menit, Anda masih bisa bertahan hidup. Namun jika otak Anda berhenti bekerja selama satu detik saja, maka tubuh Anda mati. Itulah mengapa otak disebut sebagai organ yang paling penting dari seluruh organ di tubuh manusia
  Description: http://www.aktivasiotak.com/images/anatomi_otak.jpg                      Description: http://www.aktivasiotak.com/images/sistem_limbik.jpg


Seperti terlihat pada gambar di atas, otak dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
1).Cerebrum (Otak Besar)
 Cerebrum merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ juga ditentukan oleh kualitas bagian ini.
Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut Lobus:
Ø  Lobus Frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak Besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual dan kemampuan bahasa secara umum.
Ø  Lobus Parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan seperti tekanan, sentuhan, temperatur dari seluruh tubuh, dan rasa sakit.
Ø  Lobus Temporal berada di bagian tepi otak, di atas telinga, dan di belakang pelipis. berhubungan dengan kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara yang berada di bagian kiri lobus temporal dan di sebut area wernicke.
Ø  Lobus Occipital ada di bagian paling belakang bawah otak, berhubungan dengan rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata. Dan kerusakaan dari korteks visual dapat mengakibatkan gangguan penglihatan atau kebutaan.
     2).Cerebellum (Otak Kecil)
 Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak Kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya.
Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya, tidak mampu mengancingkan baju, kesulitan menggunakan pensil, menjahit dengan jarum, atau bahkan berjalan.

    3).Brainstem (Batang Otak)
Brainstem terletak di dasar otak. bentuk brainstem menyerupai sebuah batang yang keluar dari saraf tulang belakang yang terdiri dari medula dan pons, medula yaitu struktur yang bertanggung jawab untuk fungsi-fungsi otomatis tertentu seperti bernafas dan detak jantung sedangkan pons yaitu struktur yang terlibat dalam aktivitas tidur, terjaga, dan mimpi.
Secara keseluruhan bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.

           4).Limbic System (Sistem Limbik)
Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang, metabolisme dan juga memori jangka panjang.
Bagian terpenting dari Limbik Sistem adalah Hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu mendapat perhatian dan mana yang tidak. Misalnya Anda lebih memperhatikan anak Anda sendiri dibanding dengan anak orang yang tidak Anda kenal. Mengapa? Karena Anda punya hubungan emosional yang kuat dengan anak Anda. Begitu juga, ketika Anda membenci seseorang, Anda malah sering memperhatikan atau mengingatkan. Hal ini terjadi karena Anda punya hubungan emosional dengan orang yang Anda benci.
Sehingga secara garis besar jika dlihat dari fungsinya otak manusia berfungsi sebagai alat pikiran yang mempunyai bahasa atau perintahan untuk mengerakan semua organ tubuh manusia itu, kendati otak juga sebagai tempat atau rumahnya suatu pikiran ,maka bahasa pun tercipta dari pikiran sebagai alat yang berfungsi sebagai alat perintah apa yang akan di perintahnya tentunya bahasa manusia untuk mengerakan sesuatau apa yang dinginkan oleh pikiran itu
3. Hubungan antara otak dan pikiran
Berbicara tentang hubungan antara otak dan pikiran, para tokoh dan ahli terbagi dalam dua pandangan teori, yaitu paham dualisme dan paham monisme.
a. Paham Dualisme Otak dan Pikiran
Dalam Biopsikologi, ada seorang tokoh bernama Descartes. Meskipun bukan yang pertama mengungkapkan, namun Descartes adalah pembela Paham Dualisme. Dualisme merupakan sebuah paham yang menyatakan bahwa sesuai pendapat awam, pikiran tubuh dan pikiran otak adalah substansi yang berbeda. Pikiran adalah substansi mental dan otak adalah substansi fisik, satu sama lain tidak saling mempengaruhi. Descart mengerti bagaimana cahaya dari suatu objek menjangkau retina yang ada di belakang mata.
 Dari situ, ia berasumsi pada paham ini bahwa pikiran dan otak bersinggungan pada Kelenjar Pineal. Kelenjar Pineal merupakan sebuah organ tunggal terkecil di dalam otak serta tidak mempunyai pasangan yang ia temukan saat itu.
Namun Paham yang dianut oleh Descartes tidak sepenuhnya disetujui oleh para ilmuwan. Bahkan terjadi penolakan terhadap Dualisme dari kalangan ilmuwan dan filsuf. Penolakan tersebut terjadi karena adanya pertentangan antara Dualisme dan pengamatan konsisten para ahli fisika terhadap energi serta materi yang terdokumentasi dengan baik (hukum kekekalan materi dan energi).
b. Paham Monisme Otak dan Pikiran
Dari pertentangan dan penolakan terhadap Paham Dualisme tersebut muncullah paham yang melawan Dualisme, yakni Paham Monisme. Berbalik dengan Dualisme, Paham Monisme menganggap bahwa jagad raya hanya terdiri dari satu substansi saja. Paham Monisme itu sendiri dibagi menjadi beberapa kategori.
Ø  Materialisme. Kategori ini mengandung penjelasan bahwa segala yang ada di jagad raya adalah materi atau fisik.
Ø  Mentalisme. Mentalisme berarti bahwa sesungguhnya hanyalah pikiran saja yang ada.
Ø  Posisi Identitas. Posisi Identitas menjelaskan bahwa proses yang berkaitan dengan mental itu sama dengan proses yang berkaitan dengan proses otak tertentu.
Ø  Selain itu, ada pula pendapat ahli yang menyatakan bahwa jenis-jenis hewan selain manusia juga memiliki kesadaran, karena perilaku mereka sangat kompleks dan teradaptasi (Griffin, 2001).
Ø  Adapula teori yang menyatakan bahwa kesadaran mungkin bukanlah sebuah konsep ilmiah yang berguna (Wynne, 2004)
Selain Paham Dualisme dan Paham Monisme yang telah disebutkan di atas, adapula sebuah paham yag disebut dengan Paham Solipsisme. Paham ini menganggap bahwa orang lain adalah robot atau karakter dari dalam mimpi.
Hampir semua filsuf dan ilmuan yang pernah menjawab permasalahan tentang kaitan otak dan pikiran, mendukung salah satu kategori monoisme.
3. hubungan antara pikiran dan bahasa
Salah satu pakar Psikolinguistik yang mendalami kaitan antara bahasa dan pikiran adalah Soenjono. Dalam buku Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, Soenjono berpendapat bahwa orang sudah lama sekali berbicara tentang otak dan bahasa. Aristotle pada tahun 384-322 Sebelum Masehi telah berbicara soal hati yang melakukan hal-hal yang kini diketahui dilakukan juga oleh otak. Dari pendapat Soenjono tersebut dapat dilihat jelas bahwa ada keterkaitan antara otak dan bahasa. Otak merupakan organ yang berfungsi untuk berpikir. Sehingga dapat disimpulkan pula bahwa ada keterkaitan antara pikiran dan bahasa.
Bahasa, menurut darwin (1874) adalah kemampuan naluriah yang khas pada manusia. Dan banyak peneliti modern berpendapat bahwa pernyataan darwin memang benar.

Pendapat para ahli mengenai keterkaitan bahasa & pikiran dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :
1.   Ahli yang berpendapat bahwa bahasa mempengaruhi pikiran
Ahli yang mendukung hubungan ini adalah Benyamin Whorf dan gurunya, Edward Saphir. Menurut mereka pemahaman terhadap kata mempengaruhi pandangannya terhadap realitas. Pikiran kita dapat terkondisikan oleh kata yang kita digunakan.
Whorf dalam Rahmat (2000) mengatakan bahwa keterkaitan antara bahasa dengan pikiran terletak pada asumsi bahwa bahasa mempengaruhi cara pandang manusia terhadap dunia, serta mempengaruhi pemikiran individu pemakai bahasa itu. Sebagai contoh Bangsa Jepang. Orang Jepang mempunyai pikiran yang sangat tinggi karena orang Jepang mempunyai banyak kosa kata dalam menjelaskan sebuah realitas. Hal ini membuktikan bahwa mereka mempunyai pemahaman yang mendetail tentang realitas.

2.  Ahli yang berpendapat bahwa pikiran mempengaruhi bahasa

Pendukung pendapat ini adalah tokoh psikologi kognitif, Jean Piaget. Melalui observasi yang dilakukan oleh Piaget terhadap perkembangan aspek kognitif anak. Ia melihat bahwa perkembangan aspek kognitif anak akan mempengaruhi bahasa yang digunakannya. Semakin tinggi aspek tersebut semakin tinggi bahasa yang digunakannya.
3.  Ahli yang berpendapat bahwa bahasa dan pikiran saling mempengaruhi

Hubungan timbal balik antara kata-kata dan pikiran dikemukakan oleh Benyamin Vigotsky, seorang ahli semantik berkebangsaan Rusia yang teorinya dikenal sebagai pembaharu teori Piaget mengatakan bahwa bahasa dan pikiran saling mempengaruhi. Penggabungan Vigotsky terhadap kedua pendapat di atas banyak diterima oleh kalangan ahli psikologi kognitif
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kata-kata atau bahasa dan pikiran memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling mempengaruhi. Di satu sisi kata-kata merupakan media yang digunakan untuk memahami dunia serta digunakan dalam proses berpikir, di sisi yang lain pemahaman terhadap kata-kata merupakan hasil dari aktifitas pikiran (http://widhiarso.staff.ugm.ac.id).

Dari beberapa ahli di atas, hanya pendapat Edward Sapir dan Benyamin Whorf yang banyak dikutip oleh para peneliti. Sapir dan Whorf mengatakan bahwa tidak ada dua bahasa yang memiliki kesamaan untuk dipertimbangkan sebagai realitas sosial yang sama. Sapir dan Whorf mengemukakan dua hipotesis mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran, yaitu:
1.      Hipotesis pertama adalah Linguistic Relativity Hypothesis yang menyatakan bahwa perbedaan struktur bahasa secara umum paralel dengan perbedaan kognitif nonbahasa (nonlinguistic cognitive). Perbedaan bahasa menyebabkan perbedaan pikiran orang yang menggunakan bahasa tersebut.
2.      Hipotesis kedua adalah linguistic determinism yang menyatakan bahwa struktur bahasa mempengaruhi cara individu mempersepsi dan menalar dunia perseptual. Dengan kata lain, struktur kognisi manusia ditentukan oleh kategori dan struktur yang sudah ada dalam bahasa.
Di samping contoh di atas, hipotesis Sapir dan Whorf didukung oleh beberapa temuan di bidang terutama bidang antropologi. Di bidang tersebut dicontohkan bahwa dua individu yang memiliki kosa kata tentang warna dasar (basic color) yang berbeda akan mengurutkan warna sekunder yang berbeda.
 Language relativistics melihat bahwa kategori yang ada di dalam bahasa menjadi dasar dalam aktivitas mental seperti kategorisasi, ingatan dan pengambilan keputusan. Jika asumsi ini benar maka studi tentang bahasa mengarah pada perbedaan pikiran yang diakibatkan sistem tersebut.
Berdasarkan ketiga kategori tersebut, saya sependapat bahwa “Pikiran mempengaruhi bahasa”. Hal ini dikarenakan, semua tindakan manusia dilandasi oleh pola pikir (pikiran). Pola pikir yang baik akan menghasilkan tindakan yang baik, termasuk berbahasa.
 Misal, manusia yang hilang akal (tidak memiliki otak/pikiran yang berfungsi normal) tidak akan mampu berbahasa dengan baik dan benar. Seperti halnya anak-anak pra sekolah pada umumnya belum mampu berbahasa dengan lancar karena memiliki kosakata yang terbatas dibandingkan orang dewasa normal. Hal ini disebabkan karena pada usia pra sekolah kemampuan otak mereka belum berkembang dengan sempurna. 
Bukti lain bahwa “Pikiran mempengaruhi bahasa” dapat dilihat pada orang yang kilir lidah dan penderita afasia. 

1.   Kilir Lidah
Kilir lidah adalah suatu fenomena dalam produksi ujaran di mana pembicara ‘terkilir’ lidahnya sehingga kata-kata yang diproduksi bukanlah kata yang dia maksudkan.Kesalahan yang berupa kilir lidah seperti kelapa untuk kepala menunjukkan bahwa kata ternyata tidak tersimpan secara utuh dan orang harus meramunya (Meyer dalam Soenjono, 2008:142). Dalam hal ini yang memiliki peran yang sangat besar dalam meramu sebuah kata agar antaralangue dan parole itu sesuai adalah otak (pikiran). Biasanya kilir lidah terjadi pada waktu orang yang berbicara merasa gugup atau ketakutan, sehingga antara konsep yang ada di pikiran dengan bahasa yang diujarkan mengalami perbedaan.
2.  Afasia
Afasia adalah suatu penyakit wicara di mana orang tidak dapat berbicara dengan baik karena adanya penyakit pada otaknya. Penyakit ini pada umumnya muncul karena orang tersebut menderita stroke, yakni, sebagian otaknya kekurangan oksigen sehingga bagian tadi menjadi cacat (Soenjono, 2008:151). 
Penyebab afasia selalu berupa cedera otak. Pada kebanyakan kasus, afasia dapat disebabkan oleh pendarahan otak. Selain itu dapat juga disebabkan oleh kecelakaan atau tumor. Seseorang mengalami pendarahan otak jika aliran darah di otak tiba-tiba mengalami gangguan. Hal ini dapat terjadi melalui dua cara yaitu terjadi penyumbatan pada pembuluh darah dan kebocoran pada pembuluh darah. Untuk berkomunikasi dengan penderita afasia sebaiknya menggunakan bahasa isyarat, gambar, tulisan, atau dengan menunjuk.
Dari kedua contoh di atas, maka jelas ada keterkaitan antara pikiran dan bahasa. Sebelum bahasa diujarkan akan diproses terlebih dahulu di dalam otak..
4.Genetika perilaku, evolusi, dan lingkungan
Teori genetika dikembangkan oleh Gregor Mendel,yang mendemonstrasikan bahwa pewarisan sifat terjadi melalui gen .Gen adalah unit pewaris sifat yang mempertahankan identitas strukturalnya dari generasi ke generasi. Gen juga merupakan unit dasar dari hereditas, terletak dalam kromosom, berupa sebuah struktur yang bentuknya tongkat dan terletak di tengah-tengah (nukleus) setiap tubuh.
Manusia mempunyai 46 kromosom, yang tersusun dalam 23 pasangan. Kromosom berisi molekul-molekul DNA (deoxyribonuleicacid) yang berbentuk serupa benang. Setiap kromosom manusia mengandung ribuan gen, masing-masing terletak di tempat tertentu. Semua gen (sekitar 25.000) bersama-sama membentuk genom manusia. Sejumlah gen berpengaruh langsung terhadap suatu sifat tertentu dan lainnya berpengaruh secara tidak langsung. Sejumlah Gen mewariskan dalam bentuk yang sama sementara yang lain beraneka ragam, maka hal itulah yang membentuk individualitas setiap seseorang.

Secara tidak langsung,gen dapat mempengaruhi perilaku dengan cara merubah kondisi lingkungan.Sebagai contoh,seseorang yang memiliki gen sebagai orang yang pemarah atau pemberontak, maka orang lain bahkan orang tuanya akan menanganinya dengan keras.Perlakuan orang disekitarnya justru menambah kuat alasan kemarahannya .Dickens dan Flynn(2001) menyebutkan fenomena tersebut sebagai efek penggali(multiplier effect).Jika pengaruh genetik atau pranatal menghasilkan peningkatan atau pengurangan terhadap suatu perilaku, maka tendensi awal perilaku akan mengubah lingkungan sedemikian rupa sehingga memperkuat tendensi perilaku tersebut.

Selain itu,gen juga mempengaruhi perilaku secara tidak langsung, misalnya dengan merubah cara orang lain memperlakukan individu(kendler,2001).Misalnya,seseorang yg memiliki gen sebagai orang yang berkarakter murah senyum dan ramah,ketika bertemu orang lain yang belum dikenalnya,ia akan tersenyum dan membuat orang lain pun tersenyum kepadanya.

Penelitian mengungkapkan bahwa banyak perilaku manusia yang berkaitan erat dengan pewarisan sifat(genetik).Sebuah gen yang mempengaruhi hampir semua aspek di dalam tubuh,secara tidak langsung akan mempengaruhi pilihan kegiatan dan bagaimana perlakuan orang lain terhadap individu.

Evolusi merupakan sebuah perubahan frekuensi munculnya gen dalam sebuah populasi. Meningkat atau berkurangnya frekuensi sifat-sifat tertentu dalam sebuah populasi sejalan dengan meningkat atau berkurangnya frekuensi gen–gen yang mempengaruhi sifat-sifat tersebut.
Perkembangan seperti ini dapat menjelaskan perubahan-peruubahan yang berlangsung pada suatu species tertentu. Ketika perubahan yang terjadi sudah cukup besar, species baru akan terbentuk
 Dalam suatu populasi biasanya terjadi perubahan frekuensi munculnya gen. Hal tersebut disebabkan oleh proses yang berlangsung selama pembuahan, seperti adanya kesalahan dalam merangkai DNA yang asli, saling bertukar tempat dari suatu pasangan kromosom ke pasangan kromosom lain, hingga ketika produksi sperma dan telur menghasilkan variasi-variasi genetis baru.
 Selain itu, proses seleksi alam juga merupakan salah satu faktor yang perlu untuk diperhitungkan. Menurut prinsip seleksi alam, nasib dari variasi gen tergantung pada lingkungan. Jika individu pada sebuah lingkungan memiliki sifat-sifat genetis yang cenderung lebih berhasil, maka makin lama gen-gen mereka lebih banyak ditemui dalam populasinya. Melalui proses reproduksi, gen-gen mereka akan terseleksi dari generasi ke generasi berikutnya dan menyebar ke seluruh spesies. Sebaliknya, individu yang sifatnya tidak adaptif dalam perjuangan mempertahankan hidup, tidak akan dapat bereproduksi dengan baik.[1][1]
Beberapa hal yang berhubungan dengan gen, evolusi dan lingkungan adalah sebagai berikut:
1.      Kesamaan Genetis
Manusia di seluruh dunia memiliki kesamaan, misalnya dalam hal kemampuan berbahasa, berpasangan dan berhubungan seksual, loyalitas terhadap keluarga dan suku dan sebagainya.
Menurut psikologi evolusi, hal tersebut sebagian erat kaitannya dengan karakter genetis (bawaan). Yang berkembang selam sejarah evolusi spesies manusia. Akibat evolusi tersebut, ada banyak kemampuan kecendeungan dan sifat yang sudah ada sejak lahir atau berkembang secara cepat seiring dengan kematangan. Sifat-sifat ini tidak hanya mencakup sifat yang tampak jelas, namun juga mencakup sifat yang tidak begitu tampak jelas.
Beberapa contoh dari sifat-sifat tersebut adalah : refleks bayi, minat terhadap hal-hal baru, hasrat untuk menjelajah dan memanipulasi objek, impuls untuk bermain, dan keterampilan kognitif dasar.

2.      Keragaman atau variatif genetik
Selain adanya kesamaan pada manusia diseluruh dunia juga terdapat perbedaan genetis. Contoh nyatanya adalah intelligensi. Sejumlah psikolog berkeyakinan bahwa IQ (Intteligence quotient) itu mengukur kualitas umum yang mempengaruhi kebanyakan mental. Skor IQ sangat di pengaruhi oleh faktor heritabilitas  Bagi anak-anak dan remaja perkiraan faktor heritabilitas sekitar 0,4 atau 0,5 sedang bagi orang dewasa antara 0,5 sampai 0,8. Dengan demilian kontribusi genetika menjadi relatif lebih besar dari pada lingkungan , seiring dengan bertambahnya usia. [2][2]
                             Salah satu kemungkinan gen mempengaruhi intteligensi adalah jumlah sel saraf otak sebagaimana tercermin dalam volum total dari zat kelabu di otak (Grey Matter).  Selain itu proses perkembangan otak juga mempengaruhi intteligensi.
 Pada anak-anak cerdas otak bagian luar yang berhubungan dengan proses berfikir, pada awalnya lebih tipis (lebih sedikit zat kelabunya dibanding dengan anak-anak yang lain Namun demikian otak mereka lbih cepat berkembang dan lebih lama daripada anak lain. Pada anak-anak yang memiliki skor IQ rata-rata puncak perkembangan kortek terjadi pada usia 7 atau 8 tahun, adapun pada anak yang memiliki skor tinggi puncak perkembangannya terjadi pada usia 11 atau 12 tahun.
 Namun pengalaman stimulasi  intteligensi dan bahkan diet dapat mempengaruhi jumlah koneksi sel saraf dalam otak. Yang tentunya memiliki dampak terhadap zat kelabu otak. Menurut para ahli pengalaman dan lingkungan yang mempengaruhi perkembangan inttelektual antara lain : perawatan dalam kandungan, kecukupan gizi, kontak dengan bahan beracun, lingkungan keluarga yang mungkin memicu munculnya stres.[3][3]

3.      Pembawaan (Nature) dan Lingkungan (Nuture)
       Pengaruh genetis maupun lingkungan saling berinteraksi untuk menghasilkan kualitas yang unik, yaitu manusia. Aktif tidaknya sebuah gen tergantung pengalaman yang dimiliki dan aktifitas dari gen-gen lain. Aktifitas gen juga berfariasi akibat proses biokimia acak yang terjadi didalam badan sel.
        Para ahli teori dan peneliti menjelaskan bagaimana antara pembawaan dan lingkungan saling berkaitan dalam hal perkembangan psikologi individu. Diantaranya mereka membagi ke dalam faktor-faktor yang menentukan perkembangan psikologi


Ø    Peran kematangan
Banyak perubahan yang lazim pada bayi dan masa kanak-kanak awal, seperti munculnya kemampuan berjalan dan berbicara, yang terlihat berkaitan kematangan tubuh dan otak. Perkembangan urutan alamiah perubahan fisik dan pola perilaku, termasuk kesiapan untuk menguasai berbagai kemampuan baru seperti kemampuan berbicara dan berjalan. Sebagaimana anak-anak tumbuh menjadi remaja dan kemudian menjadi dewasa, perbedaan-perbedaan individual dalam karakteristik bawaan dan pengalaman hidup untuk memainkan peranan yang lebih besar, seperti halnya orang beradaptasi terhadap kondisi internal dan eksternal yang mereka hadapi sendiri.
Meskipun demikian, kematangan bisa berlanjut mempengaruhi proses biologis.[4][4]
Ø     Berbagai lingkungan perkembangan
Manusia adalah makhluk sosial. Sejak awal, mereka berkembang di dalam lingkungan sosial Berbagai lingkungan perkembangan itu diantaranya :
a.       Keluarga
b.      Status ekonomi dan lingkungan di sekitar tempat tinggal
c.       Budaya
d.      Ras dan kesukuan
                
Nature adalah sifat bawaan yang dimiliki individu, sementara nurture merupakan lingkungan yang mempengaruhi individu tersebut. Dari ilustrasi di atas, kita dapat melihat bahwa faktor nature tidak selalu merupakan harga mati. Hingga batas tertentu, faktor nurture juga akan menunjukan perannya. Artinya kedua faktor tersebut memiliki bagian peran masing-masing dalam pembentukan suatu individu.




DAFTAR PUSTAKA

kalat,J.W.2010.Biopsikologi.Jakarta:SalembaHumanika
wade carole, tavris carol.2007.PSIKOLOGI edisi kesembilan jilid 1.jakarta : PENERBIT ERLANGGA
Diane E, dkk. 2009. Human development. Jakarta: salemba humanika
http://psikologi-shinrigaku.blogspot.com/2013/05/genetika-dan-perilak.html




[1][1] Eva Latipah, Pengantar Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta:pustaka insan madani), hlm 33-35
[1][2] Ibid, hlm 36-41


[3][3] Ibid, hlm 42

[4][4] Diane. E .Papalia. dkk, Human Development, (Jakarta: Salemba humanaika), hlm 18-19