psilologi biologis
1.
Pengertian psikologi dan biologi
Psikologi secara umum dapat di
definisikan sebagai disiplin ilmu yang berfokus pada perilaku dan berbagai
proses mental serta bagaimana perilaku dan berbagai proses mental ini di
pengaruhi oleh kondisi mental organisme, dan lingkungan eksternal.
Sedangkan biologi di definisikan
sebagai ilmu alam yang mempelajari kehidupan dan organisme
hidup,
termasuk struktur, fungsi, pertumbuhan, evolusi, persebaran, dan taksonominya. Ada juga yang mengatakan ilmu
pengetahuan alam yang mempelajari tetang kehidupan di dunia dari segala aspek,
baik itu tentang makhluk hidup, lingkungan, maupun interaksi antara makhluk
hidup dengan lingkungannya.
Sehingga
dapat di simpulkan bahwa psikologi biologis atau biopsilogi adalah adalah ilmu
yang mempelajari mekanisme prilaku dan pengalaman dari sisi fisiologi, evolusi,
serta perkembangan. Istilah biopsikologi memberi tekanan bahwa tujuan akhirnya
adalah mengaitkan antara topik-topik biologi dengan psikologi.
2. Otak sumber pikiran
dan kepribadian
A.Sistem saraf
Dilihat dari cara kerja dan
fungsinya, saraf bagaikan sebuah jaringan komunikasi. Sistem saraf berfungsi
untuk menerima pesan dan menanggapi pesan tersebut. Dalam hal ini, pesan
disebut rangsang. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa saraf
merupakan bagian dari tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang dan kemudian
menanggapi rangsang tersebut.
Seperti halnya dua orang yang berbincang-bincang
melalui telepon. Seseorang di suatu tempat menyampaikan suatu pesan dan
ditanggapi oleh orang di tempat lain. Melalui komunikasi tersebut akhirnya
pesan yang disampaikan seseorang dapat ditanggapi oleh orang lain. Ilustrasi
tersebut ternyata dapat menjelaskan tentang sistem saraf.
Para ilmuan membagi jaringan kerja yang rumit ini ke
dalam dua bagian utama, yakni sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer.
a.Sistem
saraf pusat
Berfungsi
untuk menerima, memproses, menginterpretasikan, dan menyimpan informasi
sensoris yang datang seperti informasi mengenai rasa, suara, bau, warna,
tekanan pada kulit, kondisi organ internal, dan lain-lain. Sistem saraf ini
juga mengirimkan pesan untuk otot, kelenjar, dan organ internal.
Dalam
sistem saraf pusat terdapat saraf tulang belakang yang dapat menghasilkan
beberapa perilaku, tanpa bantuan apapun dari otak. sebagai contoh, seandainya
anda tiba-tiba menyentuh setrika panas, dengan segera anda akan menarik tangan
dari setrika tersebut, bahkan sebelum otak anda memproses peristiwa yang telah
terjadi.
b.Sistem
saraf perifer
Berfungsi
menangani pesan informasi yang masuk dan keluar dari sistem saraf pusat. Sistem
saraf perifer terdiri dari 43 pasang saraf yang menghubungkan informasi dari
dan ke sistem saraf pusat, 2 pasang saraf kranial di dalam kepala memasuki otak
secara langsung, 3 pasang saraf tulang belakang masuk ke dalam tulang belakang
melalui celah antara tulang belakang tersebut.
Seandainya otak anda tidak mengumpulkan informasi dari
dunia sekitar dengan menggunakan sistem saraf perifer, situasi itu dapat di
ibaratkan sebuah radio tanpa alat penerima. Para ilmuan membagi sistem saraf
perifer ke dalam dua bagian, yakni :
a) Sistem saraf somatis atau sistem saraf
skeletal
Sistem saraf sadar yang
berperan dalam mengendalikan aktivits tubuh yang dilakukan secara sadar.Terdiri
dari saraf-saraf yang berhubungan dengan reseptor sensorik yaitu sel yang dapat
merasakan dunia. Ketika anda merasakan seekor serangga berjalan di lengan anda
atau ketika mematikan lampu bahkan menulis nama, sistem somatis dalam kondisi
aktif.
b) Sistem saraf otonomik
Berfungsi untuk
mengatur fungsi pembuluh darah, kelenjar, dan organ internal, seperti kandung
kemih, perut, dan jantung. Sebagai contoh, ketika anda sedang melihat seseorang
yang anda sukai, sehigga mengakibatkan jantung anda berdebar kencang, tangan
anda dingin, dan pipi anda merah, dan inilah sistem saraf otonomik. Sistem
saraf ini terbagi menjai dua bagian yaitu sistem saraf simpatik dan sistem
saraf parasimpatik. Kedua bagian ini saling bekerja sama secara berlawanan,
untuk membuat tubuh mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.
B.Pesan
kimiawi di dalam sistem saraf
Terdapat banyak senyawa kimia yang
di manfaatkan sebagai neurotransmiter. Neurotransmiter yaitu bahan
kimia endogen yang
mengirimkan sinyal dari neuron ke sel
target di sinaps. Zat ini mempengaruhi ssuasana hati, ingatan, dan
kesejahteraan.
Seluruh aktivitas kehidupan manusia
yang berkenaan dengan otak di atur melalui tiga cara, yaitu sinyal listrik pada
neuron, zat kimiawi yang di sebut neurotransmitter dan hormon yang dilepaskan
ke dalam darah. Hampir seluruh aktivitas di otak memanfaatkan neurotransmitter.
Beberapa neurotransmiter utama, antara
lain:
Ø Asam amino: asam
glutamat, asam aspartat, serina, GABA, glisina.
Ø Monoamina: dopamin (
berkaitan dengan gerakan yang di sengaja,belajar, ikatan, emosi, kenikmatan,
dan respon terhadap hal-hal yang baru), serotonin( mempengaruhi neuron yang
berkaitan dengan tidur,nafsu makan, pengaturan suhu, penahanan rasa sakit, dan
suasana hati), adrenalin, noradrenalin, histamin, dan melatonin.
Ø Bentuk lain: asetilkolina(
berkaitan dengan aksi otot, fungsi kognitif, ingatan, dan emosi), adenosina,
anandamida, dll.
C.Hormon
Hormon yaitu zat kimiawi yang di
keluarkan oleh organ-organ yang di sebut kelenjar, dan bekerja mempengaruhi
fungsi organ-organ lainnya.diantaranya
di hasilkan oleh kelenjar endokrin (
endocrine glands), hormon di lepaskan secara langsung ke dalam aliran
darah, kemudian di bawa ke berbagai organ dan sel yang mungkin letaknya jauh
dari asal tempat hormon.
Beberapa hormon yang menarik
perhatian beberapa psikolog yaitu :
Ø
Melatoni ,
yaitu hormon yang di keluarkan oleh kelenjar pineal, dan terlibat dalam pengaturan
ritme biologis harian seperti meningkatkan tidur.
Ø
Oksitosin
,yaitu hormon yang di keluarkan oleh kelenjar hipofisis, meningkatkan kotraksi
rahim ketika melahirkan dan memancing pengeluaran air susu ketika menyusui, dan
hormon ini ikut berkontribusi pada hubungan antar manusia, baik wanita maupun
pria, dengan memancing kedekatan dan kepercayaan.
Ø
Hormon
adrenal, yaitu hormon yang di hasilkan oleh kelenjar adrenal dan terlibat dalam
kondisi emosi serta stres.
Ø
Hormon seks,
yaitu hormon yang mengatur perkembangan dan fungsi organ-organ refroduktif
serta merangsang perkembangan karakteristik seksual pada pria dan wanita.
Hormon seks terdiri dari androgen, estrogen, dan progesteron.
D.Otak
Otak
merupakan pusat dari keseluruhan tubuh. Jika otak sehat, maka akan mendorong
kesehatan tubuh serta menunjang kesehatan mental. Sebaliknya, apabila otak
terganggu, maka kesehatan tubuh dan mental bisa ikut terganggu.
William
shakespeare menyebut otak sebagai “kediaman yang rapuh bagi jiwa”. Pada
kenyataannya, organ yang ajaib ini lebih menyerupai ruang utama dari sebuah
rumah yang di penuhi oleh kamar-kamar dan gang-gang kecil, sementara “rumah”
itu sendiri adalah sistem saraf secara keseluruhan. Sebelum dapat memahami
jendela, tembok, dan mebel dari rumah tadi, kita perlu memahami rancangan
menyeluruh dari rumah tadi.
Seandainya
jantung atau paru-paru Anda berhenti bekerja selama beberapa menit, Anda masih
bisa bertahan hidup. Namun jika otak Anda berhenti bekerja selama satu detik
saja, maka tubuh Anda mati. Itulah mengapa otak disebut sebagai organ yang
paling penting dari seluruh organ di tubuh manusia

Seperti
terlihat pada gambar di atas, otak dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
1).Cerebrum (Otak Besar)
Cerebrum
merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat
manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran,
perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ juga
ditentukan oleh kualitas bagian ini.
Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang
disebut Lobus:
Ø Lobus Frontal merupakan
bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak Besar. Lobus ini berhubungan
dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan,
penyelesaian masalah, memberi penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol
perilaku seksual dan kemampuan bahasa secara umum.
Ø Lobus Parietal berada di
tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan seperti tekanan, sentuhan,
temperatur dari seluruh tubuh, dan rasa sakit.
Ø Lobus Temporal berada di
bagian tepi otak, di atas telinga, dan di belakang pelipis. berhubungan dengan
kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara yang
berada di bagian kiri lobus temporal dan di sebut area wernicke.
Ø Lobus Occipital ada di
bagian paling belakang bawah otak, berhubungan dengan rangsangan visual yang
memungkinkan manusia mampu melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap
oleh retina mata. Dan kerusakaan dari korteks visual dapat mengakibatkan
gangguan penglihatan atau kebutaan.
2).Cerebellum (Otak Kecil)
Cerebellum
mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi
tubuh, mengkontrol keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak Kecil
juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari
seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan
mengunci pintu dan sebagainya.
Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat
mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi
tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke
dalam mulutnya, tidak mampu mengancingkan baju, kesulitan menggunakan pensil,
menjahit dengan jarum, atau bahkan berjalan.
3).Brainstem (Batang Otak)
Brainstem terletak di dasar otak.
bentuk brainstem menyerupai sebuah batang yang keluar dari saraf tulang
belakang yang terdiri dari medula dan pons, medula yaitu struktur yang
bertanggung jawab untuk fungsi-fungsi otomatis tertentu seperti bernafas dan detak
jantung sedangkan pons yaitu struktur yang terlibat dalam aktivitas tidur,
terjaga, dan mimpi.
Secara keseluruhan bagian otak ini mengatur fungsi
dasar manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh,
mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight
or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.
4).Limbic System (Sistem Limbik)
Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan,
mengatur produksi hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar,
dorongan seks, pusat rasa senang, metabolisme dan juga memori jangka panjang.
Bagian terpenting dari Limbik Sistem adalah
Hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu
mendapat perhatian dan mana yang tidak. Misalnya Anda lebih memperhatikan anak
Anda sendiri dibanding dengan anak orang yang tidak Anda kenal. Mengapa? Karena
Anda punya hubungan emosional yang kuat dengan anak Anda. Begitu juga, ketika
Anda membenci seseorang, Anda malah sering memperhatikan atau mengingatkan. Hal
ini terjadi karena Anda punya hubungan emosional dengan orang yang Anda benci.
Sehingga secara garis besar jika dlihat dari fungsinya
otak manusia berfungsi sebagai alat pikiran yang mempunyai bahasa atau
perintahan untuk mengerakan semua organ tubuh manusia itu, kendati otak juga
sebagai tempat atau rumahnya suatu pikiran ,maka bahasa pun tercipta dari
pikiran sebagai alat yang berfungsi sebagai alat perintah apa yang akan di
perintahnya tentunya bahasa manusia untuk mengerakan sesuatau apa yang
dinginkan oleh pikiran itu
3. Hubungan antara otak dan pikiran
Berbicara tentang hubungan antara otak dan pikiran,
para tokoh dan ahli terbagi dalam dua pandangan teori, yaitu paham dualisme
dan paham monisme.
a. Paham Dualisme Otak dan Pikiran
Dalam
Biopsikologi, ada seorang tokoh bernama Descartes. Meskipun bukan yang pertama
mengungkapkan, namun Descartes adalah pembela Paham Dualisme. Dualisme
merupakan sebuah paham yang menyatakan bahwa sesuai pendapat awam, pikiran
tubuh dan pikiran otak adalah substansi yang berbeda. Pikiran adalah substansi
mental dan otak adalah substansi fisik, satu sama lain tidak saling
mempengaruhi. Descart mengerti bagaimana cahaya dari suatu objek menjangkau
retina yang ada di belakang mata.
Dari situ, ia berasumsi pada paham ini bahwa
pikiran dan otak bersinggungan pada Kelenjar Pineal. Kelenjar Pineal merupakan
sebuah organ tunggal terkecil di dalam otak serta tidak mempunyai pasangan yang
ia temukan saat itu.
Namun Paham yang dianut oleh Descartes tidak
sepenuhnya disetujui oleh para ilmuwan. Bahkan terjadi penolakan terhadap
Dualisme dari kalangan ilmuwan dan filsuf. Penolakan tersebut terjadi karena
adanya pertentangan antara Dualisme dan pengamatan konsisten para ahli fisika
terhadap energi serta materi yang terdokumentasi dengan baik (hukum kekekalan
materi dan energi).
b. Paham Monisme Otak dan Pikiran
Dari
pertentangan dan penolakan terhadap Paham Dualisme tersebut muncullah paham
yang melawan Dualisme, yakni Paham Monisme. Berbalik dengan Dualisme, Paham
Monisme menganggap bahwa jagad raya hanya terdiri dari satu substansi saja.
Paham Monisme itu sendiri dibagi menjadi beberapa kategori.
Ø Materialisme. Kategori ini mengandung penjelasan bahwa
segala yang ada di jagad raya adalah materi atau fisik.
Ø Mentalisme. Mentalisme berarti bahwa sesungguhnya
hanyalah pikiran saja yang ada.
Ø Posisi Identitas. Posisi Identitas menjelaskan bahwa
proses yang berkaitan dengan mental itu sama dengan proses yang berkaitan
dengan proses otak tertentu.
Ø Selain itu, ada pula pendapat ahli yang menyatakan
bahwa jenis-jenis hewan selain manusia juga memiliki kesadaran, karena perilaku
mereka sangat kompleks dan teradaptasi (Griffin, 2001).
Ø Adapula teori yang menyatakan bahwa kesadaran mungkin
bukanlah sebuah konsep ilmiah yang berguna (Wynne, 2004)
Selain Paham
Dualisme dan Paham Monisme yang telah disebutkan di atas, adapula sebuah paham
yag disebut dengan Paham Solipsisme. Paham ini menganggap bahwa orang lain
adalah robot atau karakter dari dalam mimpi.
Hampir semua
filsuf dan ilmuan yang pernah menjawab permasalahan tentang kaitan otak dan
pikiran, mendukung salah satu kategori monoisme.
3. hubungan antara pikiran dan bahasa
Salah satu pakar Psikolinguistik yang mendalami kaitan
antara bahasa dan pikiran adalah Soenjono. Dalam buku Psikolinguistik
Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, Soenjono berpendapat bahwa orang sudah
lama sekali berbicara tentang otak dan bahasa. Aristotle pada tahun 384-322
Sebelum Masehi telah berbicara soal hati yang melakukan hal-hal yang kini
diketahui dilakukan juga oleh otak. Dari pendapat Soenjono tersebut dapat
dilihat jelas bahwa ada keterkaitan antara otak dan bahasa. Otak merupakan
organ yang berfungsi untuk berpikir. Sehingga dapat disimpulkan pula bahwa ada
keterkaitan antara pikiran dan bahasa.
Bahasa, menurut darwin (1874) adalah kemampuan
naluriah yang khas pada manusia. Dan banyak peneliti modern berpendapat bahwa
pernyataan darwin memang benar.
Pendapat para ahli mengenai keterkaitan bahasa &
pikiran dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :
1. Ahli yang
berpendapat bahwa bahasa mempengaruhi pikiran
Ahli yang mendukung hubungan ini adalah Benyamin Whorf
dan gurunya, Edward Saphir. Menurut mereka pemahaman terhadap kata mempengaruhi
pandangannya terhadap realitas. Pikiran kita dapat terkondisikan oleh kata yang
kita digunakan.
Whorf dalam Rahmat (2000) mengatakan bahwa keterkaitan
antara bahasa dengan pikiran terletak pada asumsi bahwa bahasa mempengaruhi
cara pandang manusia terhadap dunia, serta mempengaruhi pemikiran individu
pemakai bahasa itu. Sebagai contoh Bangsa Jepang. Orang Jepang mempunyai
pikiran yang sangat tinggi karena orang Jepang mempunyai banyak kosa kata dalam
menjelaskan sebuah realitas. Hal ini membuktikan bahwa mereka mempunyai
pemahaman yang mendetail tentang realitas.
2. Ahli yang berpendapat bahwa pikiran mempengaruhi bahasa
Pendukung pendapat ini adalah tokoh psikologi
kognitif, Jean Piaget. Melalui observasi yang dilakukan oleh Piaget terhadap
perkembangan aspek kognitif anak. Ia melihat bahwa perkembangan aspek kognitif
anak akan mempengaruhi bahasa yang digunakannya. Semakin tinggi aspek tersebut
semakin tinggi bahasa yang digunakannya.
3. Ahli yang berpendapat bahwa bahasa dan pikiran saling
mempengaruhi
Hubungan timbal balik antara kata-kata dan pikiran
dikemukakan oleh Benyamin Vigotsky, seorang ahli semantik berkebangsaan Rusia
yang teorinya dikenal sebagai pembaharu teori Piaget mengatakan bahwa bahasa
dan pikiran saling mempengaruhi. Penggabungan Vigotsky terhadap kedua pendapat di
atas banyak diterima oleh kalangan ahli psikologi kognitif
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
kata-kata atau bahasa dan pikiran memiliki hubungan yang tidak dapat
dipisahkan. Keduanya saling mempengaruhi. Di satu sisi kata-kata merupakan media
yang digunakan untuk memahami dunia serta digunakan dalam proses berpikir, di
sisi yang lain pemahaman terhadap kata-kata merupakan hasil dari aktifitas
pikiran (http://widhiarso.staff.ugm.ac.id).
Dari beberapa ahli di atas, hanya
pendapat Edward Sapir dan Benyamin Whorf yang banyak dikutip oleh para
peneliti. Sapir dan Whorf mengatakan bahwa tidak ada dua bahasa yang memiliki
kesamaan untuk dipertimbangkan sebagai realitas sosial yang sama. Sapir dan Whorf
mengemukakan dua hipotesis mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran,
yaitu:
1.
Hipotesis
pertama adalah Linguistic Relativity Hypothesis yang
menyatakan bahwa perbedaan struktur bahasa secara umum paralel dengan perbedaan
kognitif nonbahasa (nonlinguistic cognitive). Perbedaan bahasa
menyebabkan perbedaan pikiran orang yang menggunakan bahasa tersebut.
2.
Hipotesis
kedua adalah linguistic determinism yang menyatakan bahwa
struktur bahasa mempengaruhi cara individu mempersepsi dan menalar dunia perseptual.
Dengan kata lain, struktur kognisi manusia ditentukan oleh kategori dan
struktur yang sudah ada dalam bahasa.
Di samping contoh di atas, hipotesis Sapir dan Whorf
didukung oleh beberapa temuan di bidang terutama bidang antropologi. Di bidang
tersebut dicontohkan bahwa dua individu yang memiliki kosa kata tentang warna
dasar (basic color) yang berbeda akan mengurutkan warna sekunder yang
berbeda.
Language relativistics melihat bahwa
kategori yang ada di dalam bahasa menjadi dasar dalam aktivitas mental seperti
kategorisasi, ingatan dan pengambilan keputusan. Jika asumsi ini benar maka
studi tentang bahasa mengarah pada perbedaan pikiran yang diakibatkan sistem
tersebut.
Berdasarkan ketiga kategori tersebut,
saya sependapat bahwa “Pikiran mempengaruhi bahasa”. Hal ini
dikarenakan, semua tindakan manusia dilandasi oleh pola pikir (pikiran). Pola
pikir yang baik akan menghasilkan tindakan yang baik, termasuk berbahasa.
Misal, manusia
yang hilang akal (tidak memiliki otak/pikiran yang berfungsi normal) tidak akan
mampu berbahasa dengan baik dan benar. Seperti halnya anak-anak pra sekolah
pada umumnya belum mampu berbahasa dengan lancar karena memiliki kosakata yang
terbatas dibandingkan orang dewasa normal. Hal ini disebabkan karena pada usia
pra sekolah kemampuan otak mereka belum berkembang dengan sempurna.
Bukti lain bahwa “Pikiran mempengaruhi bahasa” dapat
dilihat pada orang yang kilir lidah dan penderita afasia.
1. Kilir
Lidah
Kilir lidah adalah suatu fenomena dalam produksi
ujaran di mana pembicara ‘terkilir’ lidahnya sehingga kata-kata yang diproduksi
bukanlah kata yang dia maksudkan.Kesalahan yang berupa kilir lidah
seperti kelapa untuk kepala menunjukkan bahwa kata
ternyata tidak tersimpan secara utuh dan orang harus meramunya (Meyer dalam
Soenjono, 2008:142). Dalam hal ini yang memiliki peran yang sangat besar dalam
meramu sebuah kata agar antaralangue dan parole itu
sesuai adalah otak (pikiran). Biasanya kilir lidah terjadi pada waktu orang
yang berbicara merasa gugup atau ketakutan, sehingga antara konsep yang ada di
pikiran dengan bahasa yang diujarkan mengalami perbedaan.
2. Afasia
Afasia adalah suatu penyakit wicara
di mana orang tidak dapat berbicara dengan baik karena adanya penyakit pada
otaknya. Penyakit ini pada umumnya muncul karena orang tersebut menderita
stroke, yakni, sebagian otaknya kekurangan oksigen sehingga bagian tadi menjadi
cacat (Soenjono, 2008:151).
Penyebab afasia selalu berupa cedera
otak. Pada kebanyakan kasus, afasia dapat disebabkan oleh pendarahan otak. Selain
itu dapat juga disebabkan oleh kecelakaan atau tumor. Seseorang mengalami
pendarahan otak jika aliran darah di otak tiba-tiba mengalami gangguan. Hal ini
dapat terjadi melalui dua cara yaitu terjadi penyumbatan pada pembuluh darah
dan kebocoran pada pembuluh darah. Untuk berkomunikasi dengan penderita afasia
sebaiknya menggunakan bahasa isyarat, gambar, tulisan, atau dengan menunjuk.
Dari kedua contoh di atas, maka
jelas ada keterkaitan antara pikiran dan bahasa. Sebelum bahasa diujarkan akan
diproses terlebih dahulu di dalam otak..
4.Genetika
perilaku, evolusi, dan lingkungan
Teori genetika dikembangkan oleh Gregor Mendel,yang
mendemonstrasikan bahwa pewarisan sifat terjadi melalui gen .Gen adalah unit
pewaris sifat yang mempertahankan identitas strukturalnya dari generasi ke
generasi. Gen juga merupakan unit dasar dari
hereditas, terletak dalam kromosom, berupa sebuah struktur yang bentuknya
tongkat dan terletak di tengah-tengah (nukleus) setiap tubuh.
Manusia mempunyai 46 kromosom, yang
tersusun dalam 23 pasangan. Kromosom berisi molekul-molekul DNA (deoxyribonuleicacid)
yang berbentuk serupa benang. Setiap kromosom manusia mengandung ribuan gen,
masing-masing terletak di tempat tertentu. Semua gen (sekitar 25.000)
bersama-sama membentuk genom manusia. Sejumlah gen berpengaruh langsung
terhadap suatu sifat tertentu dan lainnya berpengaruh secara tidak langsung.
Sejumlah Gen mewariskan dalam bentuk yang sama sementara yang lain beraneka
ragam, maka hal itulah yang membentuk individualitas setiap seseorang.
Secara tidak langsung,gen dapat mempengaruhi perilaku
dengan cara merubah kondisi lingkungan.Sebagai contoh,seseorang yang memiliki
gen sebagai orang yang pemarah atau pemberontak, maka orang lain bahkan orang
tuanya akan menanganinya dengan keras.Perlakuan orang disekitarnya justru
menambah kuat alasan kemarahannya .Dickens dan Flynn(2001) menyebutkan fenomena
tersebut sebagai efek penggali(multiplier effect).Jika pengaruh genetik atau pranatal
menghasilkan peningkatan atau pengurangan terhadap suatu perilaku, maka
tendensi awal perilaku akan mengubah lingkungan sedemikian rupa sehingga
memperkuat tendensi perilaku tersebut.
Selain itu,gen juga mempengaruhi perilaku secara tidak
langsung, misalnya dengan merubah cara orang lain memperlakukan individu(kendler,2001).Misalnya,seseorang
yg memiliki gen sebagai orang yang berkarakter murah senyum dan ramah,ketika
bertemu orang lain yang belum dikenalnya,ia akan tersenyum dan membuat orang
lain pun tersenyum kepadanya.
Penelitian mengungkapkan bahwa banyak perilaku manusia
yang berkaitan erat dengan pewarisan sifat(genetik).Sebuah gen yang
mempengaruhi hampir semua aspek di dalam tubuh,secara tidak langsung akan
mempengaruhi pilihan kegiatan dan bagaimana perlakuan orang lain terhadap
individu.
Evolusi merupakan sebuah perubahan frekuensi munculnya
gen dalam sebuah populasi. Meningkat atau berkurangnya frekuensi sifat-sifat
tertentu dalam sebuah populasi sejalan dengan meningkat atau berkurangnya
frekuensi gen–gen yang mempengaruhi sifat-sifat tersebut.
Perkembangan seperti ini dapat menjelaskan
perubahan-peruubahan yang berlangsung pada suatu species tertentu. Ketika
perubahan yang terjadi sudah cukup besar, species baru akan terbentuk
Dalam suatu
populasi biasanya terjadi perubahan frekuensi munculnya gen. Hal tersebut
disebabkan oleh proses yang berlangsung selama pembuahan, seperti adanya
kesalahan dalam merangkai DNA yang asli, saling bertukar tempat dari suatu
pasangan kromosom ke pasangan kromosom lain, hingga ketika produksi sperma dan telur
menghasilkan variasi-variasi genetis baru.
Selain itu,
proses seleksi alam juga merupakan salah satu faktor yang perlu untuk
diperhitungkan. Menurut prinsip seleksi alam, nasib dari variasi gen tergantung
pada lingkungan. Jika individu pada sebuah lingkungan memiliki sifat-sifat
genetis yang cenderung lebih berhasil, maka makin lama gen-gen mereka lebih
banyak ditemui dalam populasinya. Melalui proses reproduksi, gen-gen mereka
akan terseleksi dari generasi ke generasi berikutnya dan menyebar ke seluruh
spesies. Sebaliknya, individu yang sifatnya tidak adaptif dalam perjuangan
mempertahankan hidup, tidak akan dapat bereproduksi dengan baik.[1][1]
Beberapa hal yang berhubungan dengan gen, evolusi dan
lingkungan adalah sebagai berikut:
1.
Kesamaan Genetis
Manusia di seluruh dunia memiliki kesamaan, misalnya
dalam hal kemampuan berbahasa, berpasangan dan berhubungan seksual, loyalitas
terhadap keluarga dan suku dan sebagainya.
Menurut psikologi evolusi, hal tersebut sebagian erat
kaitannya dengan karakter genetis (bawaan). Yang berkembang selam sejarah
evolusi spesies manusia. Akibat evolusi tersebut, ada banyak kemampuan
kecendeungan dan sifat yang sudah ada sejak lahir atau berkembang secara cepat
seiring dengan kematangan. Sifat-sifat ini tidak hanya mencakup sifat yang
tampak jelas, namun juga mencakup sifat yang tidak begitu tampak jelas.
Beberapa contoh dari sifat-sifat tersebut adalah :
refleks bayi, minat terhadap hal-hal baru, hasrat untuk menjelajah dan
memanipulasi objek, impuls untuk bermain, dan keterampilan kognitif dasar.
2.
Keragaman
atau variatif genetik
Selain adanya kesamaan pada manusia diseluruh dunia
juga terdapat perbedaan genetis. Contoh nyatanya adalah intelligensi. Sejumlah
psikolog berkeyakinan bahwa IQ (Intteligence quotient) itu mengukur kualitas
umum yang mempengaruhi kebanyakan mental. Skor IQ sangat di pengaruhi oleh
faktor heritabilitas Bagi anak-anak dan
remaja perkiraan faktor heritabilitas sekitar 0,4 atau 0,5 sedang bagi orang
dewasa antara 0,5 sampai 0,8. Dengan demilian kontribusi genetika menjadi
relatif lebih besar dari pada lingkungan , seiring dengan bertambahnya usia. [2][2]
Salah
satu kemungkinan gen mempengaruhi intteligensi adalah jumlah sel saraf otak
sebagaimana tercermin dalam volum total dari zat kelabu di otak (Grey
Matter). Selain itu proses perkembangan
otak juga mempengaruhi intteligensi.
Pada anak-anak
cerdas otak bagian luar yang berhubungan dengan proses berfikir, pada awalnya
lebih tipis (lebih sedikit zat kelabunya dibanding dengan anak-anak yang lain
Namun demikian otak mereka lbih cepat berkembang dan lebih lama daripada anak
lain. Pada anak-anak yang memiliki skor IQ rata-rata puncak perkembangan kortek
terjadi pada usia 7 atau 8 tahun, adapun pada anak yang memiliki skor tinggi puncak
perkembangannya terjadi pada usia 11 atau 12 tahun.
Namun
pengalaman stimulasi intteligensi dan
bahkan diet dapat mempengaruhi jumlah koneksi sel saraf dalam otak. Yang
tentunya memiliki dampak terhadap zat kelabu otak. Menurut para ahli pengalaman
dan lingkungan yang mempengaruhi perkembangan inttelektual antara lain :
perawatan dalam kandungan, kecukupan gizi, kontak dengan bahan beracun,
lingkungan keluarga yang mungkin memicu munculnya stres.[3][3]
3.
Pembawaan
(Nature) dan Lingkungan (Nuture)
Pengaruh
genetis maupun lingkungan saling berinteraksi untuk menghasilkan kualitas yang
unik, yaitu manusia. Aktif tidaknya sebuah gen tergantung pengalaman yang
dimiliki dan aktifitas dari gen-gen lain. Aktifitas gen juga berfariasi akibat
proses biokimia acak yang terjadi didalam badan sel.
Para
ahli teori dan peneliti menjelaskan bagaimana antara pembawaan dan lingkungan
saling berkaitan dalam hal perkembangan psikologi individu. Diantaranya mereka
membagi ke dalam faktor-faktor yang menentukan perkembangan psikologi
Ø
Peran
kematangan
Banyak perubahan yang lazim pada bayi dan masa
kanak-kanak awal, seperti munculnya kemampuan berjalan dan berbicara, yang
terlihat berkaitan kematangan tubuh dan otak. Perkembangan urutan alamiah
perubahan fisik dan pola perilaku, termasuk kesiapan untuk menguasai berbagai
kemampuan baru seperti kemampuan berbicara dan berjalan. Sebagaimana anak-anak
tumbuh menjadi remaja dan kemudian menjadi dewasa, perbedaan-perbedaan
individual dalam karakteristik bawaan dan pengalaman hidup untuk memainkan
peranan yang lebih besar, seperti halnya orang beradaptasi terhadap kondisi
internal dan eksternal yang mereka hadapi sendiri.
Meskipun demikian, kematangan bisa
berlanjut mempengaruhi proses biologis.[4][4]
Ø
Berbagai
lingkungan perkembangan
Manusia adalah makhluk sosial. Sejak awal, mereka
berkembang di dalam lingkungan sosial Berbagai lingkungan perkembangan itu
diantaranya :
a.
Keluarga
b. Status
ekonomi dan lingkungan di sekitar tempat tinggal
c.
Budaya
d. Ras dan
kesukuan
Nature adalah sifat bawaan yang dimiliki individu,
sementara nurture merupakan lingkungan yang mempengaruhi individu tersebut.
Dari ilustrasi di atas, kita dapat melihat bahwa faktor nature tidak selalu
merupakan harga mati. Hingga batas tertentu, faktor nurture juga akan
menunjukan perannya. Artinya kedua faktor tersebut memiliki bagian peran
masing-masing dalam pembentukan suatu individu.
DAFTAR
PUSTAKA
kalat,J.W.2010.Biopsikologi.Jakarta:SalembaHumanika
wade carole, tavris carol.2007.PSIKOLOGI edisi kesembilan jilid 1.jakarta
: PENERBIT ERLANGGA
Diane E, dkk. 2009. Human
development. Jakarta: salemba humanika
http://psikologi-shinrigaku.blogspot.com/2013/05/genetika-dan-perilak.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar